Lensa Today - Bupati Indramayu, Lucky Hakim, bersama Direktur Utama Perumdam Tirta Dharma Ayu (TDA) Indramayu, H. Nurpan, S.E., M.Si., jajaran direksi di dampingi dewan pengawas memberikan klarifikasi atas gangguan layanan air bersih yang sempat dikeluhkan masyarakat di sejumlah wilayah.
Dalam keterangannya, Lucky Hakim mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir distribusi air bersih mengalami gangguan serius, bahkan menyebabkan aliran terhenti hingga satu minggu di beberapa kecamatan. Atas kondisi tersebut, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pelanggan.
“Pertama, saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan PDAM, khususnya yang terdampak. Kami akui pelayanan kemarin belum optimal, bahkan bisa dibilang buruk di beberapa titik,” ujar Lucky.
Ia menegaskan, seluruh keluhan masyarakat menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, setiap laporan akan ditampung dan diteruskan langsung kepada jajaran direksi untuk ditindaklanjuti secara cepat dan tepat.
“Saya sebagai KPM melihat secara global. Untuk teknis, silakan langsung ditanyakan kepada direksi agar penjelasannya lebih komprehensif,” tambahnya.
Sementara itu, Dirut Perumdam TDA H. Nurpan mengungkapkan bahwa gangguan layanan tidak lepas dari keterbatasan kapasitas produksi air bersih yang saat ini belum mampu mengimbangi jumlah pelanggan. Hingga kini, Perumdam TDA melayani sekitar 157 ribu sambungan, sementara kapasitas produksi baru mencapai sekitar 130 ribu liter per detik, jauh di bawah kebutuhan ideal sebesar 200 ribu liter per detik.
“Secara kapasitas kami sudah overload. Masih ada kekurangan sekitar 70 ribu liter per detik, sehingga berdampak pada distribusi, terutama saat terjadi gangguan,” jelasnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya tingkat kekeruhan air baku, khususnya saat musim hujan. Air yang bersumber dari hilir Sungai Cimanuk membawa material lumpur dari wilayah hulu, sehingga menyulitkan proses pengolahan di Instalasi Pengolahan Air (IPA). Bahkan, tingkat kekeruhan yang normalnya berada di kisaran 1.000 NTU dapat melonjak drastis hingga 11.000 NTU.
“Ini menjadi tantangan besar karena kami sangat bergantung pada satu sumber air baku dan tidak memiliki banyak alternatif seperti daerah lain,” ungkap Nurpan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Perumdam TDA menyiapkan sejumlah langkah strategis. Dalam jangka pendek, suplai air sebesar 80 liter per detik akan dialihkan dari sektor industri ke kebutuhan domestik. Selain itu, tambahan pasokan air dari wilayah Kuningan ditargetkan mulai masuk pada Mei mendatang.
“Jika berjalan sesuai rencana, distribusi air ke masyarakat akan mulai stabil pada Juni,” katanya.
Adapun dalam jangka panjang, Perumdam merencanakan pembangunan instalasi pengolahan air baru berkapasitas 200 liter per detik di wilayah Sindang, serta pengembangan fasilitas tambahan di Widasari untuk mengatasi wilayah yang masuk kategori zona merah layanan. Pembangunan reservoir juga disiapkan sebagai cadangan saat kondisi air baku mengalami kekeruhan tinggi.
Menanggapi keluhan lonjakan tagihan pelanggan, Nurpan menjelaskan bahwa hal tersebut umumnya disebabkan oleh kebocoran instalasi di rumah pelanggan, pembacaan meter yang kurang optimal, serta keterlambatan pembayaran yang menimbulkan akumulasi dan denda.
“Sering kali kebocoran di instalasi rumah tidak disadari. Selain itu, kendala pembacaan meter juga bisa menyebabkan estimasi pemakaian kurang akurat,” ujarnya.
Dalam upaya meningkatkan pelayanan, Perumdam TDA juga tengah mengembangkan aplikasi pengaduan berbasis Android. Aplikasi ini dilengkapi fitur pelaporan berbasis titik koordinat (geotagging), pengecekan tagihan, hingga sistem pembayaran.
“Dengan aplikasi ini, masyarakat bisa langsung melaporkan gangguan tanpa harus menjelaskan lokasi secara detail, karena sistem akan membaca titik koordinat secara otomatis,” tambahnya.
Di sisi lain, pihaknya juga mengakui bahwa kondisi jaringan pipa yang sudah tua menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas layanan, termasuk air keruh yang diterima pelanggan. Oleh karena itu, rehabilitasi jaringan akan dilakukan secara bertahap.
Menanggapi isu penggunaan bahan kimia berbahaya, Nurpan memastikan bahwa seluruh bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air telah sesuai standar dan aman.
“Tidak ada bahan kimia berbahaya. Yang terjadi kemarin lebih kepada ketidaktepatan komposisi saat tingkat kekeruhan meningkat drastis,” tegasnya.
Ke depan, Perumdam TDA berkomitmen meningkatkan pengawasan kualitas air melalui pengujian laboratorium secara berkala didamping SPI sebagai pengawas internal Perumdam TDA, guna memastikan air yang didistribusikan tetap aman dan layak dikonsumsi masyarakat.
Pena | By. | Tedy |
Editor | By. | Tedy |
Foto / Video | By. | Redaksi |


