Salah seorang perwakilan mahasiswa, Yayan Afriyansah, yang hadir dalam malam refleksi tiga dekade Peristiwa Kudatuli menegaskan bahwa peringatan tersebut tidak boleh dipandang semata sebagai agenda internal partai politik. Menurutnya, Kudatuli merupakan simbol perjuangan bersama seluruh elemen bangsa dalam melawan tindakan sewenang-wenang dan mempertahankan nilai-nilai demokrasi.
Yayan mengatakan, Peristiwa Kudatuli menjadi bukti bahwa perjuangan demokrasi lahir dari kolaborasi berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga kelompok masyarakat sipil yang bersatu menghadapi praktik otoritarianisme.
"Bagi kami sebagai mahasiswa, Kudatuli adalah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan otoritarianisme. Jangan melihat Kudatuli hanya sebagai kepentingan partai politik. Dulu, berbagai elemen, mulai dari aktivis hingga pejuang demokrasi, berkumpul untuk memperjuangkan tegaknya demokrasi," ujarnya.
Menurutnya, refleksi atas Peristiwa Kudatuli harus menjadi momentum membangun kembali gerakan kolektif antara mahasiswa, rakyat, dan seluruh elemen masyarakat dalam mengawal jalannya demokrasi di Indonesia.
"Momentum seperti ini menjadi sumbu awal untuk kembali menghimpun gerakan kolektif. Demokrasi harus terus dijaga bersama karena tantangan terhadap demokrasi selalu ada," katanya.
Yayan juga mengapresiasi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Indramayu yang telah menyelenggarakan kegiatan refleksi tersebut. Ia berharap semangat memperjuangkan demokrasi terus dijaga, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Menurutnya, masih banyak persoalan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama, mulai dari peningkatan pelayanan publik, jaminan kesehatan melalui BPJS, hingga pengawasan terhadap pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua DPC PDI Perjuangan beserta seluruh jajaran yang telah mengundang kami. Teruslah menegakkan demokrasi, khususnya di Kabupaten Indramayu. Kami melihat masih banyak persoalan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian, mulai dari pelayanan publik, BPJS, hingga pengawasan terhadap pembahasan APBD. Sebagai wakil rakyat, kami berharap PDI Perjuangan terus mengawal kepentingan masyarakat," pungkasnya.
Sementara itu, mahasiswa lain Sofyan Taher menilai Peristiwa Kudatuli merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa yang harus terus direfleksikan setiap tahun. Menurutnya, demokrasi pada hakikatnya merupakan sistem yang dijalankan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, sehingga seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
"Momentum ini menjadi pengingat sekaligus bahan evaluasi agar proses demokrasi di Indonesia tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai keadilan, keterbukaan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat," ujarnya.
Sofyan menambahkan, tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996 menjadi salah satu tonggak penting yang mendorong lahirnya gelombang Reformasi 1998. Peristiwa tersebut bukan sekadar bagian dari dinamika politik internal, melainkan catatan sejarah bangsa yang melibatkan perjuangan berbagai elemen masyarakat dan menelan korban jiwa.
Karena itu, menurutnya, nilai-nilai perjuangan yang lahir dari Peristiwa Kudatuli harus terus diwariskan kepada generasi muda sebagai pengingat agar praktik otoritarianisme tidak kembali terulang.
"Peristiwa Kudatuli adalah bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Nilai-nilai demokrasi yang diperjuangkan saat itu harus terus dijaga dan direfleksikan setiap tahun agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan sejarah," tegasnya.
Pena | By. | Tedy |
Editor | By. | Tedy |
Foto / Video | By. | Redaksi |
