Trending

Gadis Indramayu Korban TPPO 'Pengantin Pesanan' di Cina, Minta Tolong ke Dedi Mulyadi


 Lensa Today - Sebuah rekaman video singkat yang viral di media sosial menjadi saksi bisu penderitaan Kusnia (21), gadis asal Desa Jambak, Indramayu. Dalam video berdurasi pendek tersebut, Kusnia yang nampak tertekan menyampaikan pesan terbuka kepada Gubernur Jawa BaratDedi Mulyadi.

‎Dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca, Kusnia mengungkap kenyataan pahit yang ia alami di Cina. Ia mengaku bukan sekadar menikah, melainkan menjadi objek transaksi perdagangan manusia.

‎"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kepada yang terhormat Gubernur Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan nama saya Kusnia, saya dari Indramayu, Jawa Barat. Saya sekarang berada di negeri Cina. Saya adalah salah satu korban pengantin pesanan, Pak. Tolong saya, saya ingin pulang, Pak. Saya tersiksa di sini," ujar Kusnia dalam video yang diterima *kumparan* pada Selasa (12/5/2026).

‎Kusnia juga membeberkan kekejaman dan intimidasi yang dialaminya selama berada di bawah kekuasaan "suami" dan agennya.

‎"Saya sering kali mendapatkan kekerasan seksual. Jika saya tidak menuruti kemauan dia, dan berkas-berkas saya semua termasuk paspor saya ditahan dan saya tidak boleh ke mana-mana, Pak.

‎Dan saya dibawa oleh dua WNI. Ketika saya mengadu kepadanya, saya tidak betah dan saya sering kali mendapatkan kekerasan seksual, mereka malah mengancam balik saya, Pak. Tolong saya, saya ingin pulang, Pak. Saya ingin kembali bersama keluarga, Pak. Saya ingin pulang, saya tersiksa di sini. Terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," tambahnya dengan nada memohon.

‎Sang ibu, Darkem (53), menceritakan bagaimana putrinya itu masuk ke dalam lubang hitam ini. Semuanya bermula dari niat mulia Kusnia untuk mencari nafkah setelah ayahnya tiada.

‎"Awalnya ada tawaran dari temannya namanya Reni, katanya ada lowongan kerja di restoran di Cina. Kusnia tertarik karena ingin bantu ibu cari uang," tutur Darkem saat ditemui di kediamannya. Selasa (12/5/2026).

‎Namun, setibanya di Tangerang untuk proses administrasi, modus berubah. Seorang agen bernama Meli mulai melancarkan tipu daya agar Kusnia mau dijadikan pengantin pesanan.

‎"Meli bilang kerjanya jadi pengantin saja di Cina, iming-iminya banyak yang enak-enak. Tapi pas Kusnia mau nolak atau minta pulang, dia langsung diancam. Katanya kalau mau pulang harus bayar denda Rp7 juta," ungkap Darkem.

‎Di Cina, Kusnia baru mengetahui bahwa dirinya telah dihargai dengan angka yang fantastis oleh para sindikat tersebut.

‎Sementara ia hanya menerima sebagian kecil, sang suami di Cina mengaku telah mengeluarkan uang ratusan juta rupiah.

‎"Kusnia cerita, dia dikasih uang mahar Rp22 juta dari agen bernama Ivo di sana. Tapi pas dia nanya suaminya soal uang bulanan buat keluarga di Indonesia, suaminya marah. Suaminya bilang sudah kasih mahar Rp400 juta ke agen. Makanya Kusnia dilarang pulang sebelum tiga tahun," jelas sang ibu.

‎Saat ini, kondisi Kusnia berada di titik nadir. Ia tidak lagi tinggal di rumah suami, melainkan di panti jompo di daerah Anhui, Cina, dalam kondisi tanpa uang dan dokumen identitas.

‎"Anak saya sekarang di panti jompo, Pak. Makannya cuma roti sekali sehari. Itu juga karena ada penjaga jompo yang kasihan. Dia nanya ke anak saya 'Gimana kamu bisa WhatsApp?', anak saya jawab 'Gak tahu, saya gak ngerti'. Jadi dia cuma dapat harapan dari orang yang kasihan saja," kata Darkem sambil menyeka air mata.

‎Terkait keterangan dari pihak KBRI di Cina, Darkem mengatakan bahwa masih memunggu surat cerai selesai dan bisa pulang secepatnya.

‎Namun ada ganjalan buat Darkem, karena untuk memulangkan Kusnia harus dengan tiket atau ongkos sendiri.

‎"Pihak KBRI katanya sudah ngomong, 'Kamu jangan kabur, entar kalau kabur dijemput polisi, dibalikin lagi ke suami kamu'. Katanya nanti tanggal 17 (Mei 2026) surat cerai turun, terus diminta cepat-cepat pulang, takutnya izin tinggal habis, tiket dipasrahin ke keluarga katanya begitu," jelas Darkem menirukan informasi yang ia terima dari Kusnia.

‎Di akhir wawancara, hanya satu keinginan sederhana dari seorang ibu yang merindukan anaknya.

‎"Harapan saya? Ya saya pengin anak saya bisa pulang, Pak. Itu saja," kata Darkem sambil meneteskan air mata.

‎Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat Indramayu dan sekitarnya akan bahaya sindikat pengantin pesanan yang kerap mengincar perempuan muda dengan iming-iming mahar besar, namun berakhir pada penyekapan dan eksploitasi.

Pena
By.
Tedy
Editor
By.
Tedy
Foto / Video
By.
Redaksi
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak